Rahasia Terlarang Sukses Bisnis Cabe Jadi Tajir Dalam Hitungan Bulan

Begini Modus Permainan yang Bikin Harga Cabai Rawit Merah Mahal

Jakarta - Upaya mengungkap keterlibatan para pengepul memainkan harga cabai rawit merah terus berlanjut. Lewat penelusuran ini terungkap alur distribusi dari petani hingga pengepul yang membuat harga cabai rawit merah mahal.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Spudnik Sujono, menjelaskan ada 9 pengepul besar di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Setiap pengepul besar memiliki 4-5 pengepul kecil. Mereka bergerilya membeli cabai rawit merah dari petani dengan harga tinggi.

"Mereka beli dari petani Rp 60.000/kilogram (kg). Pengepul besar itu punya pengepul-pengepul kecil. Ini yang bikin harga jadi kacau," ujar Spudnik kepada detikFinance.

Selanjutnya, cabai rawit merah dipasok lagi ke pengepul besar dengan harga yang lebih tinggi lagi, misalnya di kisaran Rp 75.000-Rp 80.000/kg.

Dari pengepul besar dipasok lagi ke industri makanan olahan, seperti pabrik sambal. Para pengepul besar ini telah memiliki kontrak jual-beli dengan harga tinggi.

"Mereka dapat delivery order dari industri dengan harga yang tinggi Rp 181.000/Kg," ungkap Spudnik.

Dengan harga yang tinggi itu bayangkan saja berapa besar perputaran uang di bisnis cabai rawit merah. Namun, Spudnik enggan menjelaskan lebih jauh tentang hal itu.

Yang jelas, karena industri berani membayar tinggi, para pengepul mengurangi pasokan cabai ke pasar induk, contohnya Pasar Induk Kramat Jati.

Alhasil, pasokan cabai rawit merah ke Pasar Induk Kramat Jati seret sehingga harga melonjak di atas Rp 130.000/kg, bahkan sempat tembus Rp 160.000/kg.

"Pasokan ke Pasar Induk Kramat Jati yang biasanya 50 ton per hari ditekan sehingga harga naik," tutur Spudnik.

Dia menambahkan, Kementan telah menyerahkan kasus permainan harga cabai ini kepada Bareskrim Polri. Menurut Spudnik, polisi telah memantau pergerakan para pengepul besar dalam distribusi cabai rawit merah.

"Semua petugas dipasang di pasar, semua pasar, dan mereka punya jaringan intelijen juga. Aliran cabai rawit merah akan terus dipantau," ungkap Spudnik.

Saat ini, Bareskrim Polri telah menetapkan satu tersangka lagi dalam kasus permainan harga cabai rawit merah. Sehingga, total tersangkat saat ini berjumlah 4 orang.

9 Pengepul Besar Diduga Mainkan Harga Cabai Rawit Merah

Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Bareskrim Polri mengungkap praktik permainan harga yang membuat cabai rawit merah mahal. Menurut Direktur Jenderal Hortikultura, Spudnik Sujono, ada 9 pengepul besar yang terlibat dalam permainan harga ini.

Terungkapnya 9 pengepul besar itu setelah ditelusuri pihak Bareskrim Polri. Para pengepul ini tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Menurut Spudnik, para pengepul besar itu telah memiliki kontrak dengan perusahaan-perusahaan pengolah makanan senilai Rp 181.000/Kg

"Saya sudah koordinasi dengan tim, dan tim sudah melakukan pemantauan di lapangan, yang menarik itu ada 9 pengepul besar itu di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan itu yang kontrak dengan industri," kata Spudnik saat dihubungi detikFinance, Jakarta.

Menurut Spudnik, karena sudah punya kontrak dengan perusahaan pengolah makanan, 9 pengepul besar itu mengurangi pasokan cabai rawit merah ke pasar induk, termasuk yang berada di wilayah Jabodetabek.

"Yang biasanya isi ke sana, sekarang dapat order dari industri dengan harga Rp 181.000 jadi harganya lebih tinggi," terang Spudnik

Alhasil, pasokan cabai rawit merah ke pasar induk anjlok dari biasanya. Contohnya di Pasar Kramat Jati.

Yanto, bandar cabai di Pasar Induk Kramat Jati mengatakan, pasokan cabai rawit merah turun drastis.

"Standarnya itu 40 ton per hari, sekarang rata-rata 12 ton per hari," ungkap Yanto.

Spudnik menambahkan, kasus cabai rawit merah ini diserahkan sepenuhnya ke Bareskirm untuk ditelusuri.

"Jadi itu memang hasil penyelidikan Polri, itu data kepolisian. Bareskrim mantau di mana tidak sehatnya nih, pelanggarannya di mana," tambahnya.

Diduga Mainkan Harga, Pengepul Pasok Cabai ke Pabrik Sambal

Jakarta - Bareksrim Polri dan Kementerian Pertanian telah mengungkap penyebab meroketnya harga cabai rawit merah hingga tembus Rp 160.000/kg. Lonjakan harga terjadi karena permainan para pengepul, yang merupakan tangan pertama penyuplai cabai dari petani sebelum masuk ke pedagang.

Cabai yang harusnya didistribusikan ke pedagang di pasar induk, salah satunya Pasar Induk Kramat Jati, malah dilego ke perusahaan yang memberikan tawaran harga lebih tinggi dibandingkan pedagang besar.

Lantas, perusahaan apa saja itu ? Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Spudnik Sujono, mengatakan perusahaan-perusahaan itu masuk dalam kategori industri produk olahan.

"Industri produk olahan saja, dia kan biasanya buat saos cabai premium, tapi itu katanya, kan masih dalam penyelidikan," kata Spudnik saat dihubungi detikFinance, Jakarta.

Spudnik pemerintah saat ini belum bisa membeberkan nama-nama perusahaan yang memang terlibat langsung dalam kasus tingginya harga cabai rawit.

"Kalau untuk nama perusahaan masih belum bisa di publikasikan, karena masih dalam penyelidikan lanjut," jelasnya.

Perusahaan-perusahaan di industri produk olahan ini menawar cabai dari pengepul besar dengan harga tinggi. Bahkan, mereka telah memiliki kontrak dengan perusahaan itu senilai Rp 181.000/kg.

Menurut Spudnik, karena sudah punya kontrak dengan perusahaan pengolah makanan, 9 pengepul besar itu mengurangi pasokan cabai rawit merah ke pasar induk, termasuk yang berada di wilayah Jabodetabek.

"Yang biasanya isi ke sana, sekarang dapat order dari industri dengan harga Rp 181.000 jadi harganya lebih tinggi," terang Spudnik.

"Inikan terlalu aneh, anomali dan sampai hari ini nah ternyata di order oleh industri tadi, jadi itu kaya main-mainan mereka saja, biar saja Polisi selidiki dulu biar tuntas," tegas Spudnik.
Share on :
Rahasia Terlarang Sukses Bisnis Cabe Jadi Tajir Dalam Hitungan Bulan
Rahasia Terlarang Sukses Bisnis Cabe Jadi Tajir Dalam Hitungan Bulan
Reviewed by Dylan Heyes
Published :
Rating : 4.5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar